Penuaan di Jepang

Ditulis oleh: Administrator, 18-10-2019

       Populasi dunia di abad ke-21 ini mengalami perubahan yang membuat populasi di setiap daerah atau negara menjadi tidak seimbang. Faktor pertama dari perubahan ini adalah adanya perbedaan populasi di bagian utara dan selatan, di mana populasi di bagian selatan semakin meningkat, sementara populasi di bagian utara semakin menurun. Faktor kedua adalah pergeseran populasi dari desa ke daerah perkotaan yang menyebabkan populasi urban melebihi populasi di pedesaan. Faktor yang ketiga adalah perubahan dalam struktur populasi itu sendiri, yaitu jumlah orang-orang lanjut usia (lansia) meningkat dan jumlah anak muda menurun, yang kemudian disebut dengan aging population atau populasi yang menua.

       Aging population sudah banyak menarik perhatian terutama di negara-negara maju sejak tahun 1990-an. Hal tersebut paling banyak terjadi di Jepang, di mana jumlah lansia yang berumur 65 tahun ke atas mencapai 27% dari total jumlah populasi di Jepang pada tahun 2015. Pada periode yang sama, jumlah anak-anak yang berumur 14 ke bawah menurun dari 23,4% dari total jumlah populasi menjadi 12,8%. Berdasarkan perkiraan statistik, nantinya 20% dari populasi orang Jepang adalah lansia berumur 75 tahun dan 30% adalah lansia berumur 65 tahun. Oleh sebab itu, Jepang akan menjadi negara dengan populasi yang paling tua dalam sejarah.

       Faktor utama yang paling mempengaruhi aging population di Jepang adalah rendahnya tingkat kesuburan serta tingginya harapan hidup masyarakat Jepang. Harapan hidup di Jepang adalah 85 tahun pada tahun 2016, dengan angka 82 tahun untuk laki-laki, dan 88 tahun untuk perempuan. Semenjak tingkat kesuburan di Jepang semakin menurun, aging population semakin meningkat. Angka kelahiran tahunan di Jepang menurun di bawah 1 juta untuk pertama kalinya pada tahun 2016. Namun, perawatan kesehatan berkualitas tinggi telah membantu memperpanjang harapan hidup di Jepang hampir 3 dekade selama 60 tahun. Oleh karena itu, harapan hidup di Jepang semakin panjang.

       Aging population tentunya mempengaruhi berbagai bidang dalam kehidupan di Jepang, terutama dalam hal ketenagakerjaan. Tidak sedikit dari para penyedia lapangan pekerjaan yang sedikit kesulitan memenuhi target sumber daya manusia mereka karena kurangnya tenaga kerja yang berkisar antara umur 20-30 tahun. Di Tokyo, jumlah lapangan pekerjaan berjumlah dua kali lebih banyak dari jumlah para pencari pekerjanya. Oleh karena itu, pemerintah Jepang mengerahkan banyak sekali kerja sama dengan negara-negara lain, utamanya negara-negara di Asia untuk membantu mengembangkan kebutuhan sumber daya manusia di Jepang.

       Menurut beberapa orang, mungkin aging population merupakan hal yang bernuansa negatif, mengingat banyak sekali jumlah lansia yang sudah tidak produktif lagi. Tetapi hal tersebut tidak terjadi di Jepang, karena meskipun Jepang merupakan negara dengan tingkat populasi lansia paling tinggi, para lansia di Jepang hidup dengan sangat sehat dan masih bisa melakukan banyak aktivitas rata-rata sampai usia 75, tanpa mengidap penyakit sama sekali. Bahkan, para lansia di Jepang pun masih memiliki semangat yang tinggi untuk bekerja bagi mereka yang memiliki usaha atau bisnis sendiri. Jadi, aging population di Jepang tidak sepenuhnya bernuansa negatif, karena para lansia di Jepang merupakan lansia yang berkualitas tinggi, berkat perawatan kesehatan yang berkualitas tinggi pula.

Untuk Informasi mengenai sekolah, beasiswa, bekerja, dan wisata ke Jepang dapat menghubungi kami melalui website https://mislanguageschool.co.id/

Sumber Gambar : Photo by Jon Tang on Unsplash

Sumber : https://www.nippon.com/en/features/c02801/

               https://www.bloomberg.com/quicktake/japan-s-shrinking-population