Tsundoku : Kebiasaan Menumpuk Buku tanpa Sempat Membaca

Ditulis oleh: Administrator, 05-12-2019

     Apakah kalian suka membaca buku? Apakah kalian sering membeli buku? Ataukah kalian tanpa sadar hanya membeli buku-buku tanpa sempat membacanya? Jika iya, mungkin kalian termasuk Tsundoku. Tsundoku (積ん読) secara harfiah berarti membaca tumpukan. Merujuk pada kebiasaan membeli buku sampai akhirnya menumpuk tanpa membacanya. Istilah ini muncul pada awal era meiji sekitar tahun 1868-1912 dan berawal dari permainan kata. Berasal dari kata Tsunde oku (積 ん で お く) yang berarti membiarkan sesuatu menumpuk. Oku (お く) pada Tsunde oku kemudian berubah menjadi doku (読) yang artinya membaca.

     Selain di Jepang, terdapat istilah yang mirip dengan Tsundoku. Apakah kalian pernah mendengar Bibliomania? Suatu istilah tentang obsesi terhadap buku. Pada kasus yang parah, Bibliomania juga dikategorikan sebagai gangguan psikologis obsesif-kompulsif yang melibatkan pengumpulan dan bahkan penimbunan buku ke titik dimana hubungan sosial atau kesehatan rusak. Meskipun Tsundoku dan Bibliomania memiliki makna yang mirip, terdapat satu hal yang menjadi perbedaan utama. Bibliomania menggambarkan niat untuk membuat koleksi buku yang berlebihan, sedangkan Tsundoku menggambarkan niat membeli buku untuk dibaca yang akhirnya tidak sempat sehingga tidak sengaja menjadi suatu koleksi.

     Terdapat pula istilah “Tsundoku Sensei” yang muncul dalam teks tahun 1897 dalam buku yang ditulis Mori Senzo, dan istilah “E-Tsundoku”. Pada saat itu, istilah Tsundoku Sensei cenderung digunakan untuk menyindir guru yang memiliki banyak buku tapi tidak pernah membacanya. E-Tsundoku merujuk pada istilah yang berarti mengoleksi buku-buku elektronik atau digital, tanpa sempat membacanya.

     Jika kalian merasa memiliki kebiasan Tsundoku, kalian dapat melakukan beberapa hal untuk mengatasinya, yaitu :

  1. Mulailah memilah-milah koleksi buku kalian dan berikan buku yang tidak kalian baca kepada orang yang akan lebih menikmati/menyukai nya.
  2. Apabila kalian menikmati mengumpulkan buku, tata dan atur koleksi buku kalian pada rak-rak yang mudah dijangkau agar membantu kalian dapat membacanya setiap waktu.
  3. Saat kalian mengunakan digital, Tsundoku akan menjadi sulit dikendalikan. Meskipun tidak menghabiskan banyak ruang di rumah, akan lebih baik kalau kalian memilih buku digital sesuai dengan apa yang anda butuhkan. Luangkan waktu untuk membaca dan abaikan istilah-istilah sulit pada buku apabila kalian tidak membutuhkannya.
Untuk Informasi mengenai sekolah, beasiswa, bekerja, dan wisata ke Jepang dapat menghubungi kami melalui website https://mislanguageschool.co.id/

Sumber : 

“Tsundoku,” the Japanese Word for the New Books That Pile Up on Our Shelves. (http://www.openculture.com/2018/07/tsundoku.html)

Tsundoku: The practice of buying more books than you can read. (https://www.treehugger.com/cleaning-organizing/tsundoku-practice-buying-more-books-you-can-read.html)

Battling Tsundoku (The Japanese Word For Buying Books And Never Reading Them) (https://medium.com/thrive-global/are-you-unintentionally-engaging-in-tsundoku-the-japanese-word-for-buying-books-and-never-reading-7a5c6f5d2adf)