Kagura adalah gabungan dari pertunujkan tarian dan nyanyian yang ada dalam matsuri. Kagura dalam bahasa Jepang dituliskan dengan dua kanji, yaitu kanji 神 (kami) yang memiliki arti dewa dan kanji 楽 (raku) yang memiliki arti kesenangan. Secara etimalogi, kagura berasal dari kata Kami-kura (神座)yang memiliki arti tempat duduk dewa. Sekarang ini, Kagura diartikan sebagai pertunjukkan dengan maksud untuk menghibur dewa. Tetapi secara spesifik, istilah Kagura memiliki arti yang sama dengan Kamiasobi (神遊び), yaitu pertunjukan yang dilakukan oleh dewa dengan masuk ke dalam tubuh para penari (Mayumi, 1992:283).
Dalam Kagura terdapat beberapa istilah. Yang pertama adalah kamigakari (神懸り), yaitu proses turun dan masuknya dewa kedalam tubuh manusia. Dikenal juga dengan nama yougou, yaitu penari kagura yang tubunhnya kemasukan dewa. Yang kedua adalah torimono (採物), yaitu aksesoris yang dibawa oleh penari kagura, seperti panah, pedang, lonceng, kipas dan gohei (御幣). Torimono tersebut dipercaya dapar mempermudah dewa untuk masuk ke tubuh penari. Kagura dipercaya memiliki majinai (呪い), yaitu kekuatan gaib seperti mengembalikan energy jiwa manusia, umur manusia bertambah panjang dan dapat mensucikan manusia.
Di dalam buku Nihonshoki, digambarkan Dewa Matahari (Amaterasu) yang mundur ke dalam gua sehingga membawa kegelapan pada dunia, membuat dewa Ame no Uzume memimpin dewa yang lain untuk melakukan tarian. Tarian tersebut menimbulkan keributan yang berhasil menarik perhatian Dewa Amaterasu untuk muncul. Kagura merupakan salah satu dari tarian tersebut. Kemudian dengan berjalannya waktu, kagura menjadi sebuah perantara antara manusia dan dewa.
Dalam perkembangannya, kagura dimulai sebagai tarian sakral yang ditarikan oleh miko yang merupakan keturunan dari Ame no Uzume. Tarian tersebut terkenal dengan sebutan miko-kagura (御子神楽). Saat melakukannya, miko menjadi sebuah perantara, dimana miko berbicara, bernyanyi, dan menari sebagai dewa. Mikokagura ini juga menggunakan torimono.
Namun dengan seiring berjalannya waktu, nilai arsiktik dari kagura meningkat dan mulai popular juga berkembang di kalangan masyarakat. Mikokagura mulai diadaptasi ke dalam tradisi-tradisi rakyat yang lain dan dikembangkan menjadi beberapa bentuk berbeda. Dan mulai diperaktikan di desa-desa diseluruh negeri yang dikenal dengan nama satokagura (里神楽). Hingga telah tercipta banyak variasi setelah berabad-abad, kagura yang salah satu bentuknya menyajikan cerita atau dongen, menjadi salah satu pengaruh yang besar terhadap teater Nō. Kemudian, dari berbagai macam variasi kagura, yang paling terkenal hingga saat ini adalah Hayachinekagura (早池峰神楽).
Hayachinekagura merupakan salah satu variasi kagura yang berada di Ohasasama, Hanamaki, Perfektur Iwate. Di bagian timur Perfektur Iwate terdapat Gunung Hayachine yang oleh masyarakat setempat dipercayai sebagai tempat tinggal para dewa. Gunung Hayachine juga merupakan tempat menempa diri bagi para yamabushi (山武士). Menurut legenda, Tanaka Hyōbu yang merupakan seorang pemburu pernah mengejar rusa putih hingga puncak Gunung Hayachine dan merasakan kekuatan supranatural disana. Kemudian dia mendirikan kuil bernama Kuil Hayachine di puncak gunung tersebut dan keturunannya secara turun menurun menjadi pengurus kuil tersebut. Selain itu, diperkirakan mereka juga yang menjadi pemimpin dari yamabushi dari kawasan Take dan Ōtsugunai. Para yamabushi tersebut menarikan kagura sebagai bentuk doa, dan kemudian berkembang menjadi Hayachinekagura yang dikenal sekarang.
Hayachinekagura ini dibagi menjadi dua, yaitu takekagura dan ōtsugunaikagura. Takekagura merupakan kagura yang dipersembahkan untuk Dewa Hayachine dari Kuil Haychine. Namun, takekagura tidak memiliki sejarah tertulis. Menurut cerita turun menurun dari warga setempat, takekagura diwariskan oleh dua orang yamabushi. Sedangkan ōtsugunaikagura menurut legenda, diwariskan kepada petugas penjaga kuil oleh Pendeta Shito dari Kuil Kuil Tanaka Myōjin.
Namun dengan seiring berjalannya waktu, nilai arsiktik dari kagura meningkat dan mulai popular juga berkembang di kalangan masyarakat. Mikokagura mulai diadaptasi ke dalam tradisi-tradisi rakyat yang lain dan dikembangkan menjadi beberapa bentuk berbeda. Dan mulai diperaktikan di desa-desa diseluruh negeri yang dikenal dengan nama satokagura (里神楽). Hingga telah tercipta banyak variasi setelah berabad-abad, kagura yang salah satu bentuknya menyajikan cerita atau dongen, menjadi salah satu pengaruh yang besar terhadap teater Nō. Kemudian, dari berbagai macam variasi kagura, yang paling terkenal hingga saat ini adalah Hayachinekagura (早池峰神楽).
Hayachinekagura merupakan salah satu variasi kagura yang berada di Ohasasama, Hanamaki, Perfektur Iwate. Di bagian timur Perfektur Iwate terdapat Gunung Hayachine yang oleh masyarakat setempat dipercayai sebagai tempat tinggal para dewa. Gunung Hayachine juga merupakan tempat menempa diri bagi para yamabushi (山武士). Menurut legenda, Tanaka Hyōbu yang merupakan seorang pemburu pernah mengejar rusa putih hingga puncak Gunung Hayachine dan merasakan kekuatan supranatural disana. Kemudian dia mendirikan kuil bernama Kuil Hayachine di puncak gunung tersebut dan keturunannya secara turun menurun menjadi pengurus kuil tersebut. Selain itu, diperkirakan mereka juga yang menjadi pemimpin dari yamabushi dari kawasan Take dan Ōtsugunai. Para yamabushi tersebut menarikan kagura sebagai bentuk doa, dan kemudian berkembang menjadi Hayachinekagura yang dikenal sekarang.
Hayachinekagura ini ditampilakan di atas panggung kayu. Namun tarian antara takekagura dan ōtsugunaikagura memiliki ketukan yang berbeda. Takekagura memiliki lima ketukan dengan tempo cepat yang menggambarkan kejantanan. Sedangkan ōtsugunaikagura memiliki tujuh ketukan dengan tempo lambat yang menggambarkan keanggunan.
Sekarang ini, hayachinekagura biasa ditampilakan di Festival Besar Kuil Hayachine pada hari pertama Bulan Agustus. Dan diiringin dengan alat musik seperti drum, simbal dan seruling. Haychinekagura ini dimulai dengan shiki-mai (式舞) . Hayachinekagura ini ditampilakan di atas panggung kayu. Namun tarian antara takekagura dan ōtsugunaikagura memiliki ketukan yang berbeda. Takekagura memiliki lima ketukan dengan tempo cepat yang menggambarkan kejantanan. Sedangkan ōtsugunaikagura memiliki tujuh ketukan dengan tempo lambat yang menggambarkan keanggunan.
Sekarang ini, hayachinekagura biasa ditampilakan di Festival Besar Kuil Hayachine pada hari pertama Bulan Agustus. Dan diiringin dengan alat musik seperti drum, simbal dan seruling. Haychinekagura ini dimulai dengan shiki-mai (式舞) .
Shiki-mai merupakan 6 tarian pembukaan yang wajib dilakukan. Dengan urutan, Tori-mai (鳥舞), Okina-mai (翁舞), Sanbasō (三番叟), Yama no Kami-mai (山の神舞), Hachiman-mai (八幡舞), Iwatobiraki (岩戸開). Setelah itu dapat ditambah dengan tarian lain seperti, Kami-mai (神舞), Ara-mai (荒舞), Za-mai (座舞), Kyōgen (狂言), Gongen-mai (権現舞), yang dapat dipilih dengan bebas. Pada tanggal 4 Mei 1976, Pemerintah Jepang menetapkan hayachinekagura sebagai Warisan Penting Budaya Tak Benda Rakyat.
Sumber : http://jurnal-online.ui.ac.id/data/artikel, http://www.jstor.org/stable/1178756, http://www.jstor.org/stable/41699566
Sumber Gambar : https://festivalgo.huber-japan.com/events/events/hayachine-kagura-festival-explore-traditional-shinto-dance-iwate-prefecture