Semenanjung Oga di Perfektur Akita merupakan rumah dari namahage, sejenis iblis raksasa yang berkeliaran di daerah tersebut selama musim dingin, mencari anak-anak yang malas atau nakal. Namahage Sedo Festival adalah festival tradisional Jepang yang dimulai pada tahun 1964, yang menggabungkan tradisi cerita rakyat 'namahage' dan ritual suci kuil Shinto yang disebut dengan 'saitousai'. Budaya ini dimasukkan ke dalam UNESCO sebagai warisan budaya pada November 2018.
Namahage Sedo Festival dilaksanakan setiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu kedua di bulan Februari setiap tahunnya. Tahun ini festival Namahage akan diselenggarakan pada tanggal 12 sampai 16 Februari 2020. Namahage akan turun dari gunung pada pukul 19:30, sedangkan festival ini sendiri dimulai pukul 18:00 dan diawali dengan api unggun besar di pusat alun-alun kota. Banyak orang yang terlebih dulu mengunjungi kuil untuk berdoa, kemudian mulai mengikuti festival tersebut. Pada pukul 19:25, 15 namahage turun dari gunung dan masing-masing membawa obor di tangannya. Mereka berjalan di tengah-tengah keramaian sambil berteriak "nakuko wa inee ga?" (apakah ada anak kecil yang menangis?), atau meneriakkan "wariko wa inee ga?" (apakah ada anak kecil yang nakal di sini?) dengan menggunakan dialek Akita. Ketika mereka berhasil melewati kerumunan orang-orang, mereka menangkap anak-anak yang mereka duga nakal atau malas, dan memberikan petuah untuk meluruskan sikap mereka menjadi anak yang baik.
Puncak dari festival tersebut adalah mulai dimainkannya gemuruh drum (taiko), turunnya salju, teriakan-teriakan keras dari para namahage, dan anak-anak kecil yang juga berteriak. Suasananya benar-benar terasa mencekam dan mereka akan memeriksa setiap inci dari kerumunan di alun-alun tersebut untuk mencari anak-anak. Wajah namahage itu sendiri dibuat cukup menakutkan agar anak-anak berperilaku lebih baik setelah melihat mereka.
Seringkali, pada saat namahage melewati kerumunan, beberapa jerami jatuh dari pakaian mereka. Hal ini dianggap sebagai keberuntungan untuk mengambil dan menyimpan reruntuhan jerami tersebut dan menyimpannya sampai tahun berikutnya. Namun, akan dianggap sangat tidak sopan apabila menarik kostum mereka, karena hal tersebut dianggap akan membawa nasib buruk di tahun mendatang. Setiap namahage berjalan berkeliling dengan seseorang yang mendampingi mereka, memastikan agar tidak ada yang menarik kostum mereka. Setelah pekerjaan para namahage selesai, mereka kembali ke gunung tempat mereka berasal。
Sumber:
https://en.japantravel.com/akita/namahage-sedo-festival/35759
https://japantoday.com/category/features/lifestyle/japanese-'demon'-festival-grapples-with-blessing-and-curse-of-unesco-listin
Sumber gambar : https://www.starjogja.com/2019/03/06/festival-namahage-dan-unesco/