Seperti yang penulis jelaskan di artikel sebelumnya, berpuasa di Jepang merupakan tantangan tersendiri. Selain karena jam puasa yang lebih panjang, cuaca yang panas gerah menjadi ujian selama bulan puasa. Namun, bukan berarti puasa tidak bisa kita nikmati di sana, ya. Justru ada momen-momen unik yang mungkin menjadi kenangan tersendiri bagi pelajar di sana, sebab Jepang belum begitu mengenal tentang islam dan masyarakat muslim di sana tidak hanya dari Indonesia saja. Kira-kira hal-hal apa saja sih yang akan kita temui selama bulan Ramadan di sana?
“Bahkan air pun tidak boleh?”
Pengetahuan masyarakat Jepang dan masyarakat non-muslim dari berbagai negara tentang bulan Ramadan masih sangat terbatas atau sekadar pernah mendengar saja. Di sinilah peran mahasiswa muslim menjelaskan apa itu puasa dalam islam secara umum. Setelah mendengarkan berbagai penjelasan mereka biasanya akan tanya “Air pun tidak boleh?”. Pertanyaan ini akan muncul setiap harinya apabila bertemu dengan teman yang baru tahu kita sedang berpuasa. Namun, setelah mengetahuinya, profesor atau teman-teman Anda akan bersimpati karena tahu berpuasa di musim panas bukanlah hal yang mudah. Tidak jarang juga mereka akan menanyakan kondisi Anda.
Godaan Berat Berpuasa di Musim Panas
Godaan berat selama puasa di musim panas adalah cuaca terik dan rentang waktu puasa yang bisa mencapai 16 jam, tapi tidak hanya itu, godaan lainnya adalah kantin, restoran dan kafe yang tetap beroperasi selama bulan puasa. Mahasiswa atau dosen biasanya berlalu-lalang di sekitar kampus sambil membawa makanan atau minuman. Selain godaan makanan, berikutnya adalah godaan mata. Mahasiswa-mahasiswa (Laki-laki dan perempuan) banyak yang mengenakan baju tipis dan celana yang sangat pendek, sehingga kita harus banyak-banyak istighfar jika keterusan melihatnya. Belum lagi banyaknya vending machine di pinggiran jalan yang menawarkan minuman segar.
Selain itu, kegiatan perkuliahan pun terasa sangat berat. Mencerna materi dalam bahasa Inggris atau Jepang tentu membutuhkan energi yang lebih banyak. Ditambah lagi rasa mengantuk di siang hari, lapar dan haus yang membuat konsentrasi bubar. Mengerjakan tugas atau penelitian pun lebih melelahkan berlipat-lipat kali dalam kondisi seperti ini. Karena itu, kita harus banyak minum air putih saat sahur dan tetap menjaga kesehatan kita. Kemudian apabila tidak tahan dengan panas, masuklah ke dalam gedung yang berAC.
Berbuka Puasa Bersama Mahasiswa Jepang
Sedikitnya pengetahuan mahasiswa Jepang tentang islam dan puasa membuat mereka penasaran ingin mempelajarinya. Ada mahasiswa yang nekat mencoba puasa dan berhasil menuntaskannya sampai akhir atau hanya setengah hari saja. Lalu, masjid-masjid menyediakan iftar atau buka bersama yang ditujukan untuk umum, sehingga kita mungkin akan melihat mahasiswa atau dosen orang Jepang yang mampir ke masjid dan bertanya banyak hal. Sebenarnya, suasana iftar inilah yang paling menyenangkan saat berpuasa di Jepang. Selain bisa menjelaskan islam ke masyarakat Jepang, kita bisa menikmati hidangan dari berbagai negara di masjid.