Bersamaan dengan kemajuan teknologi, serta masyarakatnya yang dikenal sangat modern, Jepang masih mempertahankan budaya yang diturunkan oleh nenek moyangnya. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya festival perayaan terkenal yang telah dilakukan selama ratusan tahun lamanya. Selain itu, di Jepang juga terdapat beberapa pertunjukan kuno ber unsur animisme yang sangat kuat, yaitu “kagura”.
Kagura adalah pertunjukan religius yang sering menyertai Shinto Matsuri (festival atau ritual agama Shinto). Kata “kagura” berasal dari kanji “神楽” yang jika diterjemahkan artinya menjadi “hiburan untuk kami (dewa)”. Para ahli setuju bahwa “kagura” mungkin berasal dari Kami no Kura 神の倉 (kursi kami) yang menyiratkan kehadiran kami dalam penampilan kagura atau tampil sebagai tempat tinggal kami. Elemen syamanisme dari mitos kemudian dimasukkan ke dalam ritual Shinto dan kagura. Sebagai contoh, torimono (sebuah properti yang digenggam), muncul dalam kagura yang berfungsi sebagai “alat penyalur” antara kami dan sang syaman.
Awalnya kagura dimulai sebagai tarian sakral yang dilakukan di dalam istana Imperial oleh gadis-gadis suci (miko) yang diduga keturunan Ame-no-Uzume (dewi fajar, kegembiraan dan pesta). Namun, seiring berjalannya waktu, Mi Kagura yang dilakukan di lingkungan sakral dan pribadi di istana kekaisaran, melahirkan tarian ritual populer, yang disebut Satokagura, yang dipraktekkan di desa-desa di seluruh pelosok Jepang, yang kemudian diadaptasi ke dalam berbagai tradisi rakyat lainnya dan berkembang menjadi sejumlah bentuk yang berbeda. Saat ini “Kagura” merupakan seni pertunjukan rakyat yang paling kuno. Banyak variasi telah berkembang selama berabad-abad, termasuk beberapa yang cukup baru, dan sebagian besar telah menjadi tradisi rakyat yang sangat sekuler.
Kagura, khususnya bentuk-bentuk yang melibatkan pengisahan cerita atau pemunculan kembali dongeng, juga merupakan salah satu pengaruh utama pada teater Noh. Tarian pada Kagura secara tradisional dibedakan menjadi dua, mai dan odori. Mai merupakan tarian dengan gerakan melingkar, secara khas memiliki gerakan yang lamban dan elegan, sedangkan Odori adalah tarian yang melompat-lompat, secara khas memiliki gerakan yang cepat dan energik. Mai pada awalnya dikaitkan dengan tarian para miko yang dilakukan dengan iringan paduan suara para pendeta; dengan gerakan melingkar ke kiri dan ke kanan sampai para miko itu dirasuki. Setelah dirasuki, gerakannya menjadi melompat-lompat dan tidak terkendali. Sedangkan Odori, dikaitkan dengan para pendeta Shinto, yang melakukan eksorsime kepada roh jahat. Hal ini dilakukan melalui henbai (langkah magis), yang gerakannya menuju ke lima arah dan penggunaan torimono.
Kagura sendiri dibagi menjadi dua, yaitu Mi Kagura yang merupakan ritual formal dan kagura biasa (Satokagura). Mi Kagura dilakukan di sejumlah tempat suci dan sejumlah acara khusus. Mi Kagura tampil sebagai bagian dari Gagaku (musik dan tarian kekaisaran kuno) di tempat Yata no Kagami (cermin suci Jepang) dijaga, Kuil Ise di prefektur Mie. Mi Kagura juga tampil di festival panen Kekaisaran dan di kuil-kuil besar seperti Kamo dan Iwashimizu Hachiman-gu. Hal ini dilakukan setiap tahunnya sejak sekitar tahun 1000 M. Pada masa-masa awal, pertunjukan diadakan di kebun istana bagian dalam yang beralaskan kerikil putih di kota Kyoto, namun baru-baru ini dipindahkan ke taman tempat tiga kuil suci di Istana Kekaisaran Tokyo berada. Para penari Mi Kagura biasanya mengenakan pakaian seperti para bangsawan pada zaman Heian.
Sumber:
Averbuch, Irit. 1998. Shamanic Dance in Japan: The Choreography of Possession in Kagura Performance. Asian Folklore Studies, Volume 57, p. 293-329
https://web-japan.org/kidsweb/meet/kagura/kagura01.html
Sumber gambar:
https://img-www2.hp-ez.com/img/cotote/blog_20150203-141209.jpg