Saat ini, produk wewangian seperti parfum maupun pewangi lemari sangat mudah ditemukan dimanapun. Namun, zaman dahulu ketika produk-produk ini belum populer, Jepang telah memiliki wewangian mereka sendiri. Pada abad ke 8, para biksu Buddha mulai mengenalkan wewangian tradisional yang disebut nioi bukuro (匂い袋) ke masyarakat. Nioi (匂い) memiliki arti wangi atau aroma. Sedangkan bukuro/fukuro (袋) memiliki arti kantong. Sesuai dengan namanya, wewangian ini berbentuk kantong dari kain crepe silk (sejenis sutra) yang di dalamnya diisi dengan campuran bahan-bahan herbal yang aromatik.
Nioi bukuro juga memiliki varian ukuran yang disesuaikan dengan kegunaannya. Kantong yang kecil biasanya digunakan di pakaian seperti kimono, sehingga fungsinya hampir mirip seperti parfum, yaitu untuk wewangian tubuh. Sedangkan kantong besar yang biasanya berisi campuran cendana dan cengkeh digunakan untuk pewangi lemari pakaian. Ada juga nioi bukuro yang digunakan untuk wewangian ruangan guna mengusir nyamuk. Nioi bukuro jenis ini juga biasa disebut dengan kakeko.
Meskipun sekarang sudah banyak produk wewangian yang modern, saat ini masih mudah untuk menemukan nioi bukuro di tempat-tempat perbelanjaan dan toko oleh-oleh. Hal ini membuktikan eksistensi nioi bukuro yang kuat di masyarakat Jepang.
Sumber:
https://goinggaijin.com/2016/02/07/nioi-bukuro/
http://blog-e.kohgen.com/2016/08/11/some-basics-about-japanese-incense-ingredients/
Sumber gambar:
https://www.koh.co.jp/images/IMG_E0061.JPG