Kyoogen merupakan sebuah drama komedi tradisional Jepang pada abad pertengahan zaman Muromachi (1380-1466). Jika dilihat dari segi makna kanjinya, kyoogen terdiri dari huruf (狂) yang berarti gila/kacau, dan huruf (言) yang berarti kata-kata. Berdasarkan huruf kanji tersebut kyoogen dapat diartikan sebagai kata-kata gila/kata-kata yang menyindir. Berdasarkan pendapat para ahli, kyoogen merupakan drama tradisional Jepang yang bersifat ringan, jenaka yang menggambarkan peristiwa yang masih hangat dan bersifat kerakyatan. Secara etimologi kyoogen berasal dari kata “kyoogen-kigyo” yang merupakan istilah agama Buddha yang berarti berbunga-bunga atau dapat pula diartikan sebagai cerita yang tidak masuk akal. Istilah kyoogen kigyo sering dipakai oleh kritikus sastra untuk mengkritik cerita roman dan puisi. Istilah ini kemudian digunakan untuk salah satu unsur sarugaku berupa pertunjukan monomane yang merupakan seni meniru gerak-gerik dan cara berbicara secara humor. Sejalan dengan perkembangan sarugaku, istilah kyoogen akhirnya dipakai sebagai sebutan untuk teater humor pada pementasan Noh. Kyoogen ditampilkan di sela-sela pagelaran noh, sehingga kyoogen tersebut dapat disebut juga dengan Noh Kyogen.
Kyoogen berasal dari seni sangaku yang datang dari China. Ketika sampai di Jepang pengucapan sangaku berubah menjadi sarugaku. Sejak zaman Edo, kyoogen terbagi menjadi tiga aliran utama yaitu, aliran okura, aliran izumi, dan aliran sagi. Namun, saat ini hanya terdapat 2 aliran kyoogen yaitu, aliran ookura dan aliran izumi. Di pertengahan zaman Muromachi (1380-1466) hingga awal zaman Edo terdapat aliran nanto-negi yang berintikan seniman kalangan jinin. Ketika itu, sebagian besar kuil shinto memiliki kelompok sarugaku dan menggaji orang yang disebut jinin untuk dipekerjakan sebagai seniman dan sebagai pesuruh. Menurut catatan sejarah, aliran nanto-negi tercatat sangat populer pada zaman Muromachi, namun ketenarannya memudar saat memasuki awal zaman Edo sampai akhirnya terserap ke dalam aliran yang besar. Berbagai aliran kecil yang tidak terkenal juga ikut punah, dan hanya meninggalkan naskah kyoogen yang sebagian sempat diterbitkan sebagai buku bacaan di zaman Edo.
Naskah cerita noh kyoogen pada hakekatnya mengandung tanda-tanda kebahasaan atau simbol. Simbol-simbol yang terkandung dalam kyoogen tersebut, diperkirakan merupakan perwujudan seniman dalam mengungkapkan kondisi sosial bawah. Sehingga, simbol-simbol tersebut dapat mengungkapkan penderitaan yang dirasakan oleh golongan sosial bawah.
Kyoogen berjumlah sekitar 300 buah atau lebih. Dalam pementasan kyoogen pelaku utama disebut shite dan pelaku pembantu disebut ado. Ado terbagi lagi menjadi 3, yaitu Ichi no Ado, Ni no Ado, dan San no Ado. Dalam kyoogen tidak begitu banyak menggunakan topeng, dan wanita juga tidak diharuskan memakai topeng. Kecuali untuk pemeran yang memerankan tokoh yang bukan manusia, seperti hewan, dewa, dan lain sebagainya.
Sumber:
https://www.scribd.com/doc/51149044/kyogen
Sumber gambar:
https://images.keizai.biz/wakayama_keizai/headline/1652848272_photo.jpg