Siapa yang pernah mendengar tentang fenomena Shoushika? Jika tidak tahu, fenomena tersebut menjelaskan tentang bagaimana angka kelahiran di Jepang turun secara drastis sehingga jumlah anak muda jauh lebih sedikit dibanding jumlah orang lansia. Fenomena tersebut, ditambah dengan fenomena urbanisasi ketika masyarakat pindah ke kota besar, menyebabkan banyaknya sekolah di daerah pergunungan ditutup.
Banyak sekolah yang terbengkalai tersebut berubah fungsi, seperti menjadi hostel, galeri seni, akuarium, sehingga pabrik. Namun lebih banyak dari gedung-gedung sekolah yang akhirnya dibiarkan terbengkalai karena kurangnya permintaan atau memiliki fasilitas yang buruk dan tidak memadai. Keputusan ini tentu saja sangat menyakiti masyarakat Jepang, yang mengganggap peran sekolah tidak hanya sebatas tempat belajar. Di Jepang, taman bermain dan lapangan olah raga milik sekolah kerap dibuka saat libur sekolah, masa liburan, dan malam hari untuk mengakomodasi kegiatan warga sekitar. Kadang lapangan tersebut digunakan sebagai tempat pengungsian ketika terjadi bencana alam.
Saat ini, terdapat berbagai macam cara untuk membangkitkan kembali sekolah tersebut, atau sekecil-kecilnya menggunakan ruangan yang ada dalam sekolah tersebut. Hal ini dikarenakan biaya yang dibutuhkan untuk merobohkan gedung untuk dibangun kembali akan lebih mahal dibandingkan menggunakan gedung lama. Selain itu, juga ada faktor emosional yang menghubungkan antara warga sekitar dengan gedung sekolah. Sehingga, warga sekitar juga turut serta mendukung pemindahan fungsi sehingga gedung sekolah dapat digunakan kembali.
Sumber :
https://news.detik.com/bbc-world/d-6787402/kekurangan-murid-sekolah-di-jepang-berubah-jadi-akuarium-pabrik-sake
Sumber Gambar:
https://urbex.net.pl/wp-content/gallery/jp_sako_school/szkola-school-Japan-Japonia-haikyo-%E5%BB%83%E5%A2%9F-%E6%97%A5%E6%9C%AC-urbex-urban-exploration-abandoned-miejsca-opuszczone-urbex.net_.pl-15.jpg