Onna Bugeisha adalah sebutan untuk para samurai perempuan di Jepang yang memiliki keterampilan bertarung setara dengan samurai laki-laki. Mereka berasal dari kalangan bangsawan dan dilatih dalam seni bela diri, strategi perang, serta penggunaan senjata seperti naginata (tombak bermata lengkung) dan tantō (belati). Berbeda dengan gambaran umum bahwa samurai hanya terdiri dari laki-laki, Onna Bugeisha membuktikan bahwa perempuan juga memiliki peran penting dalam peperangan dan perlindungan tanah air mereka.
Salah satu tokoh terkenal dari kalangan Onna Bugeisha adalah Tomoe Gozen, seorang pejuang pada zaman Perang Genpei (1180–1185). Dikenal karena keberaniannya, Tomoe Gozen mahir dalam berkuda dan bertarung, bahkan disebut-sebut mampu menghadapi beberapa lawan sekaligus di medan perang. Selain itu, ada juga Hangaku Gozen dan Nakano Takeko, yang memimpin pasukan dalam pertempuran sengit melawan musuh. Perjuangan mereka menjadi bukti bahwa perempuan di era feodal Jepang tidak hanya berperan di rumah, tetapi juga di garis depan pertempuran.
Namun, seiring dengan perubahan zaman dan berkembangnya sistem sosial di Jepang, peran Onna Bugeisha mulai meredup. Pada era Edo (1603–1868), perempuan bangsawan lebih diarahkan ke peran domestik dan seni tradisional dibandingkan bertempur. Meskipun demikian, warisan keberanian dan keterampilan mereka tetap dikenang dalam sejarah dan budaya Jepang. Kisah-kisah Onna Bugeisha menginspirasi banyak orang hingga saat ini, membuktikan bahwa keberanian dan ketangguhan tidak mengenal gender.