Ketika bepergian ke luar negeri, mencari alamat biasanya cukup mudah—cukup tahu nama jalan dan nomor rumah, lalu tinggal ikuti petunjuk Google Maps atau tanya penduduk lokal. Tapi tidak di Jepang. Negara yang terkenal dengan teknologi canggih dan keteraturan ini justru punya sistem alamat yang bisa bikin turis—dan bahkan penduduk Jepang sendiri—bingung setengah mati. Mengapa? Karena sebagian besar jalan di Jepang tidak punya nama.
Bagaimana Sistem Alamat di Jepang Bekerja?
Alih-alih menggunakan nama jalan seperti "Jalan Merdeka No. 10," alamat di Jepang menggunakan sistem blok dan distrik. Format umumnya seperti ini:
Prefektur – Kota – Distrik – Blok – Nomor Bangunan
Contohnya:
Tokyo-to, Shibuya-ku, Jingumae 4-2-15
Artinya:
- Tokyo-to = Prefektur Tokyo
- Shibuya-ku = Wilayah (semacam kecamatan) Shibuya
- Jingumae = Distrik/area kecil di dalam Shibuya
- 4 = Blok ke-4
- 2 = Sub-blok ke-2
- 15 = Nomor bangunan ke-15
Masalahnya, blok dan nomor bangunan ini tidak tersusun secara logis. Urutannya bukan selalu bersebelahan atau mengikuti pola tertentu. Kadang nomor 10 bisa berada di antara nomor 2 dan 20, tergantung urutan bangunan dibangun.
Mengapa Jalan Tidak Diberi Nama?
Jepang secara historis memang tidak terbiasa menamai jalan. Mereka lebih fokus pada area/distrik karena struktur masyarakatnya dulu berbasis komunitas kecil, bukan infrastruktur jalan seperti di Barat. Hanya jalan-jalan besar atau historis yang biasanya diberi nama, seperti Omotesando di Tokyo.
Bagaimana Orang Jepang Menemukan Lokasi?
- Peta lokal: Di banyak area, terutama dekat stasiun atau permukiman, kamu akan menemukan papan peta besar yang menunjukkan lokasi blok dan bangunan secara visual.
- Orientasi landmark: Banyak orang Jepang lebih mengandalkan arah berdasarkan landmark, seperti "dekat kuil ini" atau "belakang FamilyMart."
- Google Maps: Meski Jepang tradisional dalam sistem alamat, teknologi seperti Google Maps dan GPS jadi penyelamat untuk semua orang.
- Nomor Telepon atau Fax: Sebelumnya, toko atau restoran akan mencantumkan nomor fax atau telepon agar orang bisa menelepon untuk petunjuk arah.
Efek ke Pariwisata dan Logistik
Bagi turis, sistem ini bisa sangat membingungkan. Banyak penginapan atau restoran kecil sulit ditemukan hanya berdasarkan alamat, dan sering kali harus bertanya ke penduduk lokal atau supir taksi. Untuk pengiriman barang atau makanan, kurir di Jepang terlatih membaca sistem ini dengan jeli, meski tetap mengandalkan peta digital saat ini.
Sistem alamat Jepang adalah contoh menarik bagaimana budaya dan sejarah membentuk cara sebuah negara berfungsi. Di satu sisi, ini bisa membingungkan. Tapi di sisi lain, ini juga memperlihatkan uniknya tatanan sosial dan tradisi Jepang yang berbeda dari dunia Barat. Jadi kalau kamu tersesat di Jepang, jangan panik. Bukan salah kamu—mungkin itu hanya karena kamu belum bersahabat dengan sistem tanpa nama jalan.
Source:
https://tokyoportfolio.com/wp-content/uploads/2023/01/japan-post-box-min.jpg