Hiburi Kamakura : Festival Api dan Salju

Ditulis oleh: Administrator, 01-02-2019

          Setiap tahun baru Imlek, sekitar bulan Februari, Perfektur Akita menjadi tuan rumah dari festival Hiburi Kamakura, yaitu ritual yang menandai akhir dari musim dingin dan awal dari musim semi, dan ritual ini juga mengundang energi positif dari roh baik, atau orang Jepang menyebutnya dengan kami, yang diartikan Dewa atau Tuhan. Di samping sungai Kinokinai yang membeku, penduduk setempat membangun tenda kecil yang disebut dengan kamakura, tempat pemujaan bagi Dewa Air, yaitu Sui Jin.

          Sui Jin adalah salah satu roh baik yang memiliki tugas utama melindungi para nelayan. Namun, di kota Kakunodate yang jauh dari lautan, Sui Jin disembah untuk melindungi sawah dan mencegah gagal panen. Memanen padi adalah hal yang sangat sulit. Karena banyak orang di daerah tersebut yang masih mencari nafkah melalui pertanian, mereka selalu berdoa meminta perlindungan kepada Sui Jin, agar terhindar dari kutukan Yuki-Onna atau “wanita salju” dalam bahasa Indonesia.

          Di beberapa cerita Yuki-Onna digambarkan sebagai wanita yang sangat rumit dan kehidupannya penuh dengan kepahitan dan tragedi. Beberapa lagi percaya bahwa Yuki-Onna memang sudah jahat sejak awal. Di beberapa bagian di Jepang, diceritakan bahwa Yuki-Onna menghukum orang-orang yang tidak memperdulikan tangisannya dan akan diseret ke lembah sampai mati. Anak-anak kecil di Akita sudah diajarkan untuk selalu berhati-hati dan berdoa supaya Yuki-Onna tidak memakan jiwa mereka.

          Bagian pertama dari festival Hiburi Kamakura adalah menghiasi kuil dengan persembahan-persembahan dan jimat keberuntungan. Kannushi, atau pendeta Shinto yang memimpin acara tersebut. Mereka melafalkan doa dengan nada yang sangat tenang. Saat malam berlalu, api unggun menyala, bola-bola jerami dan arang diikat dengan tali jerami panjang. Warga setempat yang berpartisipasi dalam tarian hiburi bersiap dengan menutupi kepala mereka dengan kain yang digunakan seperti mengenakan kerudung dan memakai sarung tangan pelindung agar terlindungi dari api. Seorang penari memegang salah satu ujung tali saat bola-bola jerami yang sudah dipasang dibakar. Perlahan-lahan bola-bola tersebut membentuk lingkaran pelindung.

          Para penari hiburi harus tahan terhadap panas api dan awan tebal sampai mereka mengusir roh-roh jahat dari musim dingin. Tarian-tarian tersebut mungkin hanya terlihat seperti penduduk lokal yang hanya mengayun-ayunkan bola-bola jerami di tubuh mereka. Tetapi jika bisa melihat lebih dalam lagi, kita bisa melihat sesuatu seperti gunung yang terbakan cahaya dari Hiburi Kamakura, serta keberhasilan mereka dalam memanggil dewa Sui Jin untuk melindungi pertanian mereka.

Untuk Informasi mengenai sekolah, beasiswa, bekerja, dan wisata ke Jepang dapat menghubungi kami melalui website https://mislanguageschool.com/

Sumber :

https://theculturetrip.com/asia/japan/articles/hiburi-kamakura-the-festival-of-fire-and-snow/

https://en.japantravel.com/akita/kakunodate-fire-and-snow-festival/18878