Festival Pertengahan Musim Gugur atau (中秋节; Zhongqiujie), merupakan salah satu festival untuk merayakan waktu panen. Festival ini dirayakan pada hari kelima belas bulan delapan Kalender Tionghoa. Biasanya acara ini jatuh pada minggu kedua bulan September dan Oktober. Festival ini dimulai pada awal Dinasti Tang (618-907) dan menjadi lazim pada Dinasti Song (969-1279). Sampai dinasti Ming dan Qing (1368-1911) festival ini dapat disandingkan dengan Hari Raya Imlek. Empat kebiasaan yang dilakukan pada saat itu adalah berdoa kepada dewi bulan, makan kue bulan, menerbangkan lampion dan makan bersama keluarga. Namun seiring waktu berlalu, kebiasaan-kebiasaan yang biasa dilakukan pada hari itu hampir hilang, seperti kegiatan-kegiatan di bawah ini:
1. Tradisi Kepiting Bulan Merangkak – Memberi Kekayaan dan Keberuntungan
Saat Festival Pertengahan Musim Gugur, pernah ada tradisi “Kepiting Bulan Merangkak” di sepanjang pantai Tianjin. Pada malam hari festival bulan, orang-orang menaruh lilin kecil atau minyak di punggung kepiting. Kepiting itu dilepas di halaman rumah dan kita mengamati gerakannya. Kalau Sebagian besar kepiting masing merangkak di sekitaran halaman, hal itu melambangkan keberuntungan dan kekayaan yang akan menghampiri mereka. Tapi, jika mayoritas kepiting merangkak menuju gerbang, hal itu melambangkan keluarga itu akan menderita kerugian finansial.
2. Membuat Kue Bulan – Aktivitas Reuni Keluarga
Kue Bulan merupakan makanan yang tak dapat ditinggalkan, dan sudah menjadi sebuah tradisi apabila membagikan kue bulan ke tetangga atau kolega. Dulu kue ini dibuat bersama dengan keluarga, namun saat ini kebiasaan itu sudah ditinggalkan karena kue ini dapat dibeli atau memesan parsel untuk dibagikan ke kawan dan kolega.
3. Menyentuh Labu dan Kacang – Dipercaya Dapat Memudahkan Mendapat Keturunan
Legenda mengatakan jika wanita menyentuh labu di bawah sinar rembulan dia akan melahirkan anak laki-laki. Karena dalam Bahasa Madarin, karakter pertama “ labu” dan “anak laki-laki" adalah karakter huruf yang sama. Jika menyentuh kacang, dikatakan dia akan melahirkan seorang gadis. Saat ini tradisi tersebut sudah tidak begitu popular lagi.
4. Membakar Pagoda – Untuk Keberuntungan dan Panen Melimpah
Pada masa Dinasti Ming dan Qing, terdapat tradisi populer, yaitu lentera api. Berbeda dengan festival lentera, orang-orang akan membakar lentera pagoda. Tradisi ini sangat populer di selatan Tiongkok. Struktur Menara ini dibuat dari bata dan keramik kemudian kayu dan bamboo diletakkan didalamnya. Kemudian semuanya dibakar pada malam hari. Pada masa Dinasti Qing (1644-1911), para warga desa di Suzhou menggunakan keramik untuk membangun 7 tingkat pagoda. Tujuannya untuk menghormati Raja Neraka. Banyak yang percaya semakin besar apinya jadi semakin banyak panen yang akan didapatkan.
5. Penghormatan Kepada Bulan – Untuk Kehidupan yang Bahagia
Saat ini kita telah dimanjakan dengan berbagai macam hiburan dan sosial media. Orang cenderung tinggal di dalam rumah dan menonton televisi. Kebiasaan penghormatan terhadap dewa bulan sudah tidak sepopuler dahulu. Orang-orang biasa menyembah bulan setelah makan malam, seluruh keluarga akan berkumpul di halaman depan atau di atap mereka kemudian meletakkan kue bulan, buah-buahan, dupa dan tempat lilin di atas altar. Penghormatan ini bertujuan untuk mengharapkan kehidupan yang bahagia.
Sumber:
https://www.chinahighlights.com/festivals/mid-autumn-festival-endangered-customs.htm
Sumber gambar:
http://image5.sixthtone.com/image/5/58/114.jpg