Sejarah Musik di China

Ditulis oleh: Administrator, 16-12-2024

                Sejarah musik Tiongkok berusia sama dengan sejarah manusia di daratan Tiongkok. Alat musik kuno yang ditemukan dari dalam tanah kemungkinan merupakan alat yang juga berfungsi sebagai senjata berburu. Alat ini mirip peluit batu yang disebut xun. Ada pula yang terbuat dari tulang yang ditemukan dari situs sejarah Kebudayaan Hemudu. Selain itu ditemukan pula sejenis suling yang berlobang tujuh dari situs Jiahu. Kemungkinan besar suling Jiahu dimainkan dalam ritual upacara. Suling Jiahu menandakan bahwa kebudayaan musik Tiongkok telah dimulai sejak Zaman Neolitikum. Dari catatan sejarah Tiongkok, dituliskan bahwa musik-musik awal dimainkan dalam upacara pemujaan benda-benda di alam. Kaisar Huangdi menyembah awan dan musiknya disebut “awan”.

                Musik upacara paling awal dinamakan Shaoyue, merupakan perpaduan antara seni tari dan puisi, diiringi permainan alat musik serta nyanyian-nyanyian. Shaoyue dimainkan untuk menjamu roh-roh nenek moyang. Alat musik yang dipakai antara lain qin, she, taogu, chu, dan yu.Musik upacara dinamakan Yayue dikembangkan dari musik pemujaan suku-suku terdahulu. Yayue kemudian dimainkan dalam upacara istana dan peringatan di kelenteng. Musik ini bermula dari zaman Dinasti Zhou dan lenyap pada periode Dinasti Qing, dinasti Tiongkok yang terakhir. Setiap dinasti yang baru memelihara Yayue dari dinasti sebelumnya dan mereka menambahkan variasi mereka masing-masing. Musik upacara mencerminkan ideologi kebudayaan sebuah dinasti. Salah satu ideologi itu adalah pemujaan terhadap leluhur.

                Sebagai bangsa dengan kebudayaan agrikultur yang tua, bangsa Tionghoa sejak lama menaruh perhatian khusus pada upacara pemujaan langit dan bumi. Pada saat panen raya pun dimainkanlah musik-musik untuk merayakannya. Musik panen itu dinamakan Musik Laji. Selanjutnya, ketika Konfusianisme diterapkan, musik ritual dipecah lagi ke dalam jenis musik untuk militer (Wuyue). Wuyue dianggap sebagai musik indah yang bernilai tinggi namun tidak sepenuhnya bagus. Sejenis musik militer yang dimainkan pada zaman Dinasti Han dinamakan Guchui. Musik ini disebut juga “musik di atas kuda”.

                Alat musik yang pertama diciptakan bangsa Tionghoa antara lain adalah genderang kayu, genderang dari tanah liat dan genta perunggu. Satu perangkat genta perunggu ditemukan dari Makam Zenghouyi dari abad ke-5 SM. Keseluruhan genta berjumlah 85 buah dapat memainkan musik 12 nada dengan lengkap. Dari penemuan ini disimpulkan bahwa sejak abad ke-5 SM, bangsa Tionghoa telah menguasai konsep-konsep interval dan oktaf seperti konsep musik barat yang ada sekarang ini.

                Pada zaman Dinasti Zhou, terdapat sekitar 70 jenis alat musik yang dibedakan dari bahan-bahan pembuatannya yakni metal, batu, tanah liat, kulit, senar, kayu, labu dan bambu. Sampai zaman Dinasti Qing, pembedaan alat-alat musik ini masih dilakukan. Alat-alat musik tersebut antara lain:

  • senar terdiri dari qin dan she
  • kulit terdiri dari genderang
  • bambu terdiri dari chi dan paixiao
  • labu terdiri dari sheng
  • batu terdiri qing

                Berbagai alat-alat musik beserta pemain musik zaman kuno dapat dilihat dari gambar-gambar pada bangunan-bangunan besejarah di Tiongkok. Kuil Kaiyuan di Quanzhou terkenal dengan berbagai ukir-ukiran pemusik lengkap dengan alat-alat musik khas berbagai dinasti kuno. Tempat lainnya adalah Menara Fanta, Henan, yang memperlihatkan ukir-ukiran pemusik dari zaman Song.

Untuk Informasi mengenai kursus Mandarin dan wisata ke China dapat menghubungi kami melalui website https://mislanguageschool.co.id/

Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Musik_Tionghoa

Sumber Gambar:
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/f4/Chinese_musicians.jpg