Festival Laba (腊八节, Làbā Jié) adalah perayaan tradisional di China yang jatuh pada tanggal 8 bulan ke-12 dalam kalender lunar. Festival ini memiliki sejarah panjang sejak Dinasti Han dan awalnya dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen. Dalam agama Buddha, Laba juga menandai hari ketika Siddhartha Gautama mencapai pencerahan setelah berpuasa, dengan legenda yang menyebutkan ia memulihkan kekuatannya dengan semangkuk bubur sederhana yang dibuat oleh seorang wanita desa.
Tradisi utama Festival Laba adalah makan "Bubur Laba" (腊八粥, Làbā Zhōu) yang terbuat dari beragam bahan seperti beras, kacang-kacangan, biji-bijian, dan buah-buahan kering. Bubur ini memiliki makna simbolis, seperti beras untuk kemakmuran, kacang merah untuk keberuntungan, dan kurma merah yang menggambarkan harapan akan masa depan yang manis. Selain menjadi hidangan khas, bubur ini sering dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan orang-orang kurang mampu sebagai wujud kebersamaan dan amal.
Di era modern, Festival Laba tetap diperingati dengan semangat yang sama, baik di desa maupun di kota. Banyak sekolah dan komunitas mengadakan acara memasak dan berbagi Bubur Laba untuk menjaga tradisi tetap hidup. Festival ini juga menjadi pengingat pentingnya rasa syukur dan harapan akan masa depan yang lebih baik, sekaligus awal persiapan menjelang Tahun Baru Imlek.