Saat sore atau pagi hari, taman dan alun-alun di berbagai kota di China dapat berubah menjadi ruang terbuka yang dipenuhi musik dan gerakan tari. Fenomena ini dikenal sebagai 广场舞 (guǎngchǎng wǔ) atau square dancing, yang banyak diikuti oleh perempuan paruh baya hingga lanjut usia. Mereka biasanya berkumpul dalam kelompok dan menari bersama mengikuti musik, baik untuk berolahraga maupun sebagai kegiatan sosial. Karena banyak pesertanya adalah perempuan yang lebih tua, fenomena ini kerap mendapat julukan “Dancing Grannies.”
Menariknya, square dancing bukan sekadar aktivitas fisik. Bagi banyak pesertanya, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk bertemu teman, menjaga kebugaran, mengurangi rasa kesepian, dan menikmati waktu bersama komunitas. Tarian yang dilakukan pun beragam, mulai dari gerakan sederhana hingga koreografi yang cukup teratur. Biasanya kelompok-kelompok ini berlatih secara rutin di ruang publik seperti taman, lapangan, atau area terbuka di sekitar kompleks tempat tinggal.
Popularitasnya bahkan sempat menimbulkan perdebatan karena musik yang keras dapat mengganggu warga sekitar, terutama pada pagi atau malam hari. Namun, di sisi lain, square dancing menunjukkan bagaimana ruang publik dapat menjadi tempat bagi masyarakat untuk tetap aktif dan bersosialisasi. Bukan sekadar “nenek-nenek yang menari”, Dancing Grannies mencerminkan perubahan gaya hidup dan pentingnya komunitas dalam kehidupan masyarakat China.
Source:
https://www.scmp.com/news/people-culture/china-personalities/article/3152758/meet-dancing-grannies-loud-glorious-staple